Instalasi HOBO Water Level Data Logger Perkebunan Kelapa Sawit Medan

Team Alatuji PT Taharica melakukan instalasi pemasangan HOBO water level data logger U20L di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Kelapa sawit dan lahan gambut merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan. Mengapa ? Simak artikel dibawah ini

 

Tanah gambut merupakan salah satu potensi tinggi untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Lahan gambut untuk pengembangan kelapa sawit banyak dilakukan di Provinsi Riau dan Jambi. Pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan kelapa sawit disoroti karena banyak pembukaan lahan gambut menghasilkan emisi GRK yang dapat menyebabkan pemanasan global yang lebih tinggi.

 

Potensi tinggi dan rendah untuk tanah gambut dalam emisi gas rumah kaca ditentukan oleh karakteristik tanah gambut itu sendiri dan perubahan faktor lingkungan karena pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik tanah gambut di perkebunan kelapa sawit dalam emisi gas rumah kaca. Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit di Riau dan Provinsi Jambi.

 

Pengamatan karakteristik tanah di masing-masing situs dilakukan pada lima unit peta tanah yang memiliki karakteristik berbeda. Di setiap unit peta tanah diambil masing-masing di tiga situs pengamatan. Sehingga untuk masing-masing lokasi di Riau dan Jambi masing-masing terdiri dari 15-16 lokasi pengamatan. Seiring dengan pengamatan karakteristik tanah, di setiap situs pengamatan diambil menggunakan contoh kamar gas rumah kaca dengan dua ulangan.

 

Karakteristik tanah yang diamati adalah kedalaman air tanah, kadar air tanah, dan tingkat dekomposisi hingga kedalaman 50 cm. Sifat-sifat tanah lainnya dianalisis dalam laboratorum termasuk kandungan abu, kandungan serat, keasaman total, dan KTK.

 

Studi ini menemukan bahwa sifat-sifat tanah yang berkaitan erat dengan emisi gas rumah kaca (fluks CO2) adalah kandungan air tanah, keasaman total, dan kapasitas tukar kation. Ini menunjukkan bahwa jumlah emisi gas rumah kaca tidak hanya ditentukan oleh satu faktor tetapi ditentukan oleh beberapa faktor dan interaksi antara faktor-faktor ini.

 

 

Emisi CO2 pada lahan gambut yang telah ditanami kelapa sawit (66,87±47,53 ton CO2 ha-1 th-1 ) lebih tinggi dibandingkan pada lahan semak belukar (43,73±27,16 ton CO2 ha-1 th-1 ). Emisi pada lahan budidaya kelapa sawit tertinggi dihasilkan pada lahan yang diberi perlakuan berupa pupuk kandang.

 

Pemberian pupuk yang tepat perlu diperhatikan untuk mengurangi emisi CO2 pada lahan gambut yang telah diubah menjadi lahan budidaya. Untuk lokasi penelitian ini, emisi CO2 pada lahan semak belukar berkorelasi positif dengan suhu udara dan pada lahan kelapa sawit emisi CO2 berkorelasi negative dengan kedalaman muka air tanah.

Comments


[Disquss Here]